Vibe Coding: Evolusi Cara Menulis Kode di Era Kecerdasan Buatan | Total IT

Vibe Coding: Evolusi Cara Menulis Kode di Era Kecerdasan Buatan

By NV | 19 Januari 2026

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah banyak aspek industri teknologi, termasuk cara perangkat lunak dikembangkan. Jika sebelumnya proses coding sangat bergantung pada kemampuan manusia dalam menulis sintaks secara manual, kini muncul pendekatan baru yang lebih kolaboratif antara manusia dan mesin. Salah satu pendekatan tersebut dikenal dengan istilah Vibe Coding.

Vibe coding bukanlah bahasa pemrograman baru atau framework tertentu, melainkan sebuah gaya dan filosofi kerja dalam pengembangan perangkat lunak. Pendekatan ini menempatkan developer sebagai pengarah ide dan tujuan (intent-driven development), sementara AI berperan sebagai asisten cerdas yang membantu menerjemahkan ide tersebut menjadi kode. Dengan demikian, fokus utama developer bergeser dari sekadar menulis sintaks ke pemahaman masalah, alur logika, dan solusi sistem secara menyeluruh.

Pengertian Vibe Coding

Vibe Coding adalah pendekatan pengembangan perangkat lunak di mana developer mengekspresikan kebutuhan, niat, atau “vibe” dari sebuah fitur menggunakan bahasa alami atau deskripsi konseptual, kemudian AI membantu menghasilkan implementasi kode berdasarkan konteks tersebut.

Dalam vibe coding, developer tidak selalu menulis kode dari awal. Sebaliknya, developer:

  • mendeskripsikan apa yang ingin dicapai,

  • memberikan konteks sistem,

  • dan mengarahkan AI melalui dialog iteratif.

AI kemudian menghasilkan potongan kode, struktur modul, atau bahkan solusi end-to-end yang dapat langsung diuji dan disempurnakan.

Pendekatan ini sering diasosiasikan dengan penggunaan AI code assistant seperti Chat GPT, GitHub Copilot, atau tools serupa yang terintegrasi dengan editor kode.

Latar Belakang Munculnya Vibe Coding

Vibe coding lahir dari beberapa kebutuhan nyata dalam dunia software engineering:

  1. Kompleksitas sistem yang semakin tinggi
    Aplikasi modern melibatkan banyak layer: frontend, backend, API, database, cloud, dan security.

  2. Tekanan waktu dan kebutuhan delivery cepat
    Industri menuntut pengembangan MVP dan fitur baru dalam waktu singkat.

  3. Kematangan teknologi AI generatif
    Model AI kini mampu memahami kode, konteks, dan best practice lintas bahasa pemrograman.

  4. Perubahan peran developer
    Developer tidak lagi hanya “penulis kode”, tetapi problem solver dan system thinker.

Vibe coding menjadi jawaban atas tantangan-tantangan tersebut.

Teknologi yang Digunakan dalam Vibe Coding

Vibe coding ditopang oleh berbagai teknologi inti, yang bekerja secara terintegrasi.

Large Language Models (LLM)

LLM merupakan pondasi utama vibe coding. Model ini dilatih menggunakan:

  • jutaan baris kode open-source,

  • dokumentasi teknis,

  • artikel software engineering,

  • dan contoh implementasi nyata.

Kemampuan LLM meliputi:

  • memahami berbagai bahasa pemrograman,

  • mengenali pola desain (design patterns),

  • menghasilkan kode yang kontekstual dan konsisten.

Tanpa LLM, vibe coding tidak mungkin terjadi.

Natural Language Processing (NLP)

NLP memungkinkan AI:

  • memahami instruksi berbentuk bahasa manusia,

  • mengenali maksud (intent),

  • dan mengkonversinya menjadi logika teknis.

Contoh instruksi vibe coding:

“Buatkan service autentikasi dengan JWT, refresh token, dan middleware role-based access.”

AI kemudian mengurai kalimat tersebut menjadi komponen teknis yang relevan.

Context Awareness

AI dalam vibe coding tidak bekerja secara statis. Ia memanfaatkan konteks seperti:

  • struktur folder project,

  • file yang sedang aktif,

  • dependensi yang digunakan,

  • style coding yang konsisten.

Context awareness membuat hasil kode lebih relevan dan minim konflik dengan sistem yang sudah ada.

Integrasi IDE dan Developer Tools

Vibe coding biasanya terintegrasi langsung dengan:

  • code editor,

  • terminal,

  • version control system.

Integrasi ini memungkinkan AI:

  • memberikan saran inline,

  • melengkapi fungsi,

  • menulis test,

  • hingga menjelaskan error secara real-time.

Prompt Engineering

Prompt engineering menjadi keterampilan penting dalam vibe coding. Developer perlu menyusun instruksi yang:

  • jelas,

  • spesifik,

  • dan berorientasi tujuan.

Prompt yang baik menghasilkan kode yang lebih akurat, aman, dan mudah dikembangkan.

Cara Kerja Vibe Coding

Alur kerja vibe coding dapat dijelaskan dalam beberapa tahap berikut:

1. Penentuan Tujuan (Intent Definition)

Developer menjelaskan apa yang ingin dicapai, bukan bagaimana detail implementasinya.

Contoh:

“Saya ingin membuat fitur checkout dengan validasi stok dan perhitungan diskon.”

2. Interpretasi Konteks oleh AI

AI menganalisis:

  • bahasa instruksi,

  • konteks project,

  • praktik terbaik yang relevan.

3. Generasi Kode Awal

AI menghasilkan:

  • boilerplate,

  • fungsi utama,

  • struktur folder,

  • atau potongan logika penting.

Kode ini biasanya belum final, tetapi cukup untuk dijadikan fondasi.

4. Review dan Intervensi Developer

Developer:

  • mengevaluasi kualitas kode,

  • memperbaiki logika,

  • memastikan keamanan dan performa.

Tahap ini krusial agar kualitas tetap terjaga.

5. Iterasi Berbasis Dialog

Developer dapat:

  • meminta optimasi,

  • menambahkan fitur,

  • atau memperbaiki bug hanya dengan instruksi tambahan.

Proses ini jauh lebih cepat dibanding coding tradisional.

Manfaat Vibe Coding

Vibe coding memberikan dampak nyata dalam pengembangan perangkat lunak modern, terutama dari sisi efisiensi dan cara berpikir developer. Dengan bantuan AI, penulisan kode yang bersifat repetitif dan boilerplate dapat diminimalkan, sehingga produktivitas meningkat secara signifikan. Developer tidak lagi menghabiskan waktu pada detail teknis berulang, melainkan dapat lebih fokus mengerjakan fitur inti yang bernilai bagi pengguna.

Selain meningkatkan produktivitas, vibe coding juga mengarahkan developer untuk lebih fokus pada problem solving dan arsitektur sistem. Beban penulisan sintaks yang berkurang memungkinkan developer memikirkan alur bisnis, struktur sistem, serta desain solusi yang lebih matang dan berkelanjutan.

Vibe coding juga sangat efektif dalam mempercepat proses prototyping dan pengembangan Minimum Viable Product (MVP). Pendekatan ini membantu startup dan tim pengembang untuk mewujudkan ide, membangun proof of concept, serta melakukan eksperimen teknologi dalam waktu singkat.

Di sisi lain, vibe coding berperan sebagai media pembelajaran bagi developer, khususnya pemula. Melalui interaksi dengan AI, developer junior dapat mempelajari pola penulisan kode, memahami best practice, dan meningkatkan keterampilan teknis secara lebih cepat dan kontekstual.

Tantangan dan Risiko Vibe Coding

Ketergantungan Berlebihan pada AI 

Tanpa pemahaman dasar, developer berisiko hanya menjadi “operator AI”.

Kualitas dan Keamanan Kode

Kode hasil AI:

  • belum tentu optimal,

  • berpotensi memiliki celah keamanan,

  • perlu audit manual.

Konsistensi dan Maintainability

Jika tidak dikontrol, gaya kode bisa tidak konsisten antar modul.

Isu Etika dan Lisensi

Penggunaan kode hasil AI perlu memperhatikan:

  • lisensi open-source,

  • kepatuhan hukum,

  • dan kebijakan organisasi.

Vibe Coding vs Coding Tradisional

Aspek

Coding Tradisional

Vibe Coding

Fokus

Sintaks

Intent & konteks

Peran AI

Tidak ada

Kolaborator

Kecepatan

Lebih lambat

Lebih cepat

Iterasi

Manual

Dialog interaktif

Peran Developer

Penulis kode

Arsitek solusi


Dampak Vibe Coding terhadap Masa Depan Developer

Vibe coding mengubah peran developer dari sekadar penulis kode menjadi system designer, problem solver, dan AI collaborator. Developer tidak hanya mengimplementasikan logika, tetapi juga merancang sistem, memahami kebutuhan, serta mengarahkan AI dalam proses pengembangan.

Perubahan ini menuntut keterampilan baru yang lebih strategis, seperti kemampuan berpikir logis, prompt engineering, pemahaman arsitektur perangkat lunak, serta keahlian melakukan code review dan menjaga keamanan aplikasi. Dengan kombinasi peran dan kompetensi tersebut, developer dapat memanfaatkan vibe coding secara optimal tanpa mengorbankan kualitas dan keamanan sistem.


Referensi:

1. IBM Indonesia – Apa itu Vibe Coding?

2. IBM Indonesia – Seperti apa tren di balik vibe coding?

3. Telkom University (BSE) – Mengenal Vibe Coding: Masa Depan Pemrograman berbasis Bahasa Alami

4. LPM DISPLAY Universitas Brawijaya – Mengulik Istilah Vibe Coding

5. Microsoft Learn (Indonesia) – Kasus penggunaan pengembang untuk AI dengan GitHub Copilot

6. Dicoding Blog (Indonesia) – Mengenal Large Language Model (LLM): Pengertian dan Cara Kerjanya

7. AWS (Indonesia) – Apa itu LLM (Model Bahasa Besar)?

8. BINUS Digital – GitHub Copilot: Meningkatkan Produktivitas Pengembangan Perangkat Lunak dengan AI


Latest Projects